Minggu, 09 Agustus 2020

Suatu Malam

 Kau dan malam tercumbu cahaya rembulan sehingga hilang keagungannya...


Rintihan gerimis, dan angin malam serasa semakin menusuk kalbu..

Kabut malam kian pasrah termakan suasana.. 


Rintihan-rintihan gerimis perlahan membasahi bumi, 

Tampak juga, suara jangkrik yang meriuh seperti orkesta...


Saya baru saja mengilhami kisah bersamamu.

Semuanya tersalur melalui udara..


Tanpa tersadari, kita terus berdialektika melampaui batas² waktu..

Semua terasa cepat berlalu, 

Mungkin saja waktu terjeda untuk semntara..


Semenjak kau mengisahkan semuanya secara tulus, 

semuanya berlalu meninggalkn syarat bermakna...


Raga ini seperti ditinggal roh.. 

Menembus batas sukma tersalurkan neurik...

Mungkin raga ini terjelma olehMu, 


Kita saling mengisah

dalam frasa berkata berjuta asa dan rasa

Hingga tak terasa malam semakin perkasa...


Betapa hati ini masih terpaku;

Terseduh rasa bercampur bingung;

Menunggu kemungkinan baru di hari esok;

Dalam sendu yg semakin terkuras


Malam kemudian usai;

Cakarawala pun mulai menampakkan sinar;

Namun raga tak mau beringsut;

Terbayang hidup dengan sejuta sandiwara.

Rahasia yg terselebung, teka-teki yang telah sampai pada taraf batas ..


Akhirnya,

Suaramu telah berpaling dengan isyarat yg berkata "Cukup sampai di sini, sepertinya terlalu jauh kita mengisah"..


Bersama kesendirian saya bercengkrama bersama kesepian..

Tubuh saya Serasa menyatu kembali bersama badan..


Yang tersisa hanya air mata...



Ternyata kamu lihai membungkus rasa dibalik keseimbangan hidup;

Benar katamu, rasa terbentuk dari kepahitan dan manisnya hidup

Meski ia penuh dengan kehitaman, namun dibaliknya ada kenikmatan yg mesti kita syukuri...


Sembari merenung merangkai asa;

Menyesap setiap likunya;


Kenapa kamu hilang dibalik sunyi ini ?


Sepekatnya malam;

Sehitam warnanya;

Tanpamu malam tak akan seindah ini


Walau engkau lelap terpejam;

Tetap kukenang engkau dan malam ini...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar